Semangat Kebersamaan Jemaat Perdana Dan Umat Beriman Dewasa Ini

Oleh Fr. Armandino Atiyos da Costa

0 145

“Kebersamaan adalah permulaan, menjaga bersama adalah kemajuan, dan bekerja sama adalah keberhasilan”. (Boy Ashar).

Semangat kebersamaan mempunyai potensi untuk memperbarui, mengembangkan, dan menguasai. Dalam buku Kisah Para Rasul melukiskan awal Gereja dengan peristiwa Pentakosta, pencurahan Roh Kudus. Sejak peristiwa inilah para murid Yesus pertama diperteguh iman mereka. Semangat kebersamaan yang dirajuk oleh jemaat perdana diperhadapkan dengan lain budaya dalam menyebarluaskan iman akan Yesus Kristus. Jiwa yang berapi-api dalam komunio atau ‘semangat kebersamaan’, dapat menerobos sekat-sekat dunia yang penuh dengan tembok intoleransi.

Dalam sejarah menggambarkan jemaat perdana yang hidup dalam enam lingkaran sosial: mengumpulkan dan berbagi harta miliknya, berkumpul dan berdoa bersama, setia pada ajaran para rasul, tidak egois, pilar antara satu sama lain, hidup dalam kasih karunia Allah (Kis. 2:41-47). Semua ini hendak menggambarkan semangat kebersamaan yang adalah permulaan sebagaimana dipesankan oleh Yesus sesaat sebelum mengawali kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Kelompok pengikut Yesus Krsitus ini akhirnya maju dalam usaha bersama dan berhasil berkembang menelusuri seluruh peradaban manusia. Di samping itu, mereka menunjukkan kesetiaan mereka sebagai pengikut Yesus Kristus. Sebab, kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya. Jika tidak, iman akan Yesus Kristus tak kunjung sampai pada hit et nunc.

Iman akan Yesus Kristus membangkitkan harapan pada manusia dewasa ini. Perihal terpaan gelombang Pandemi Covid-19 yang semakin ganas. Saat yang sama, manusia memilih hidup dalam kesendirian, bukan tak mampu menjalani kebersamaan, tapi ketakutan akan kehilangan, itulah yang menjadi sebuah alasan. Kesendirian bukan merujuk pada sebuah individu saja. Bukan juga kesendirian yang banyak dijumpai dalam dunia dewasa ini, yang mana banyak orang juga terasing dari diri sendiri, karena ketergantungan pada sarana-sarana buatan; menjadi budak konsumerisme dan materialisme; menjadi pengikut propaganda, ajaran sesat; atau melilitkan diri pada pola hidup penuh hutang dan jerat rentenir; bahkan, menjadi hamba atas pelbagai macam ketergatungan pada obat atau kenikmatan tak teratur. Tapi kesendirian yang bermuara pada kebaikan bersama. Artinya, bersama-sama menjaga diri sendiri dengan mengaplikasikan: Imun, Aman, dan Iman.

Ketiga pilar; ‘Imun, Aman, dan Iman’ yang menjadi dasar pijakan di tengah lumpur pandemi saat ini. Imun dapat memastikan kesehatan dan daya tahan tubuh di tengah pandemi, perihal menjaga atau dengan cara rutin melakukan aktifitas fisik. Aman adalah menerapkan disiplin protokol kesetahan 5M: menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Di samping itu, hal utama ialah iman, bahwasannya dapat menjaga kesehatan mental yang berpengaruh terhadap imunitas tubuh. Dengan itu, semangat kebersamaan untuk mengatasi badai pandemi bisa reda dan semua orang kembali beraktivitas seperti sediakala.
Kebersamaan adalah kunci kerja sama yang kukuh dalam menjalani lika-liku kehidupan. Seperti yang terterah dalam paragraf pertama mengenai jemaat perdana yang bersama-sama dengan iman yang teguh, tetap mempertahankan dan menyebarluaskan iman ke seluruh peradaban manusia. Kata tak pernah menyerah selalu menggema dalam hati mereka. Di samping itu, umat dewasa ini juga tengah dalam perjuangan bersama-sama untuk mengakhiri virus global (Covid-19). Kata bersama di masa pandemi ini dibalut dengan kesendirian. Artinya bersama mengakhiri virus global dengan tetap menjaga jarak, menghindari keramaian dan sendiri menjaga diri, agar tali penyebaran virus ini tidak terus menjalar pada sesama. Itulah semangat kebersamaan yang selalu relevan dari sejarah sampai pada dunia dewasa ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hubungi Saya